Mahasiswa ITN Malang Ngebor Biopori di Tunjungsekar

Foto-Mahasiswa-ITN-Malang-Ngebor-Biopori-di-Tunjungsekar-4

Sekitar 15 mahasiswa terlihat sibuk di Rt 09 Rw 04 Kelurahan Tunjungsekar Kota Malang. Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasisa Teknik Lingkungan (HMTL) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang selama dua hari, Sabtu-Minggu (3-4/2) mengadakan pengabdian kepada masyarakat.

HMTL bersinergi dengan masyarakat membuat biopori dan mengelola sampah. Mereka terbagi dalam dua kelompok, mahasiswa laki-laki bertugas membuat biopori sedangkan mahasiswa wanita bergabung dengan ibu-ibu untuk memilah sampah.

Membuat biopori sangatlah mudah, hanya perlu tenaga ekstra untuk mengebor tanah. Langkah pertama membuat lubang biopori dengan kedalaman 1 meter. Kemudian pipa paralon 4 dim (114 mm) dipotong sesuai panjang lubang. Pipa-pipa tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan dan ditutup dengan loster/lubang angin.

“Pipa-pipa dalam tanah ini digunakan sebagai lubang biopori. Nantinya bisa kita masukkan sampah organik untuk menghasilkan kompos,” terang Sudiro ST,MT., dosen pendamping abdimas HMTL.

Di Rt 09 Rw 04 Tunjungsekar sudah tertanam 30 titik biopori kecil dengan menggunakan pipa paralon, dan 10 titik biopori besar dengan memanfaatkan tong. Biopori menurut Sudiro merupakan upaya konservasi air pada lahan sempit.

“Metode biopori ini dimanfaatkan untuk mengatasi genangan yang tidak memungkinkan air menyerap ke dalam tanah lewat permukaan. Cara membuatnya pun mudah dan murah. Biayanya juga tidak mahal. Satu unit pipa bisa menghasilkan 4 biopori, hanya sekitar 30 ribu rupiah,” imbuhnya.

Membuat biopori tidak semata-mata memasukkan pipa ke dalam tanah. Lebih lanjut ia menjelaskan, ada beberapa tanah yang membutuhkan penanganan khusus. Untuk tanah yang keras maka pipa harus di lubangi sisi-sisinya, agar air selain meresap ke bawah juga bisa meresap ke sisi-sisi lubang biopori.

“Inilah yang perlu digali lebih jauh oleh mahasiswa sebagai wahana penelitian. Bagaimana hasil dari biopori dengan jenis tanah yang berbeda dengan diisi sampah yang sama. Dan tanah yang sama dengan diisi sampah yang berbeda,” katanya.

Foto-Mahasiswa-ITN-Malang-Ngebor-Biopori-di-Tunjungsekar-2-732x549

Sampah-sampah yang dimasukkan ke biopori merupakan hasil pengelolaan sampah dari ibu-ibu. Dibawah naungan bank sampah Berhati (Bersih Hijau Aman Tertib Indah) N487, ibu-ibu dan mahasiswa melilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik kemudian dimasukkan ke dalam lubang biopori. Sedangkan sampah anorganik yang sudah dikelompokkan sesuai karakteristikinya seperti botol plastik, gelas plastik, kertas, kaleng dan sebagainya nanti akan dibawa ke bank sampah Kota Malang. Sampah-sampah ini nantinya akan menjadi berharga setelah dikelompokkan. “Selain ada uangnya juga meminimalkan sampah,” pungkasnya. (mer/humas)

image_pdfDownload PDF Versionimage_printPrint Page